Partai Berkarya Kecam Aksi Teror di Sejumlah Daerah

0
208
Ketua umum generasi muda berkarya (GMB) Andreas Nandiwardhana (kiri) bersama Sekjen Partai Berkarya Priyo Budi Santoso

JAKARTA (Garudanews.id) –  Maraknya aksi teror yang belakangan ini mengguncang di sejumlah daerah seperti Surabaya,  Sidoarjo dan Riau,  mengundang keperihatinan sejumlah kalangan.

Bahkan dalam melakukan aksinya,  para teroris seolah luput dari pengawasan pihak yang berwenang.  Hal itu terungkap dari   peristiwa teroris yang terjadi mengakibatkan sejumlah anggota kepolisian gugur serta beberapa warga sipil juga ikut menjadi korban.

Menanggapi peristiwa aksi teror yang terjadi,  Partai Berkarya mengecam keras aksi teroris yang melakukan serangkaian aksi bunuh diri diberbagai tempat di Kota Besar di Indonesia.

Tindakan yang mengarah kepada pihak keamanan menunjukkan kelompok teroris makin melecehkan penegak hukum. Pemerintah didesak melakukan antisipasi dan tindakan tegas.

“Kami prihatin dengan kondisi keamanan saat ini. Banyak rakyat mulai gelisah, tidak nyaman dan ketakutan akibat aksi bom bunuh diri yang dilakukan teroris. Pemerintah harus segera kendalikan keadaan, sebab jika tidak ditindak tegas akan memberi pengaruh pada stabilitas keamanan, ekonomi dan politik,” tegas Sekjen Partai Berkarya, Priyo Budi Santoso saat memberikan komentarnya di Jakarta terkait aksi bom bunuh diri, Jumat (18/5).

Menurut politikus asal Jawa Timur itu, untuk melakukan penumpasan terhadap teroris, aparat penegak hukum tidak perlu harus menunggu selesainya UU Teroris. Cukup dengan payung hukum yang ada para penegak hukum sudah dapat bertindak tegas.

“Jangan hanya urusan karena hak asasi seorang teroris lantas mengorbankan hak asasi rakyat banyak. Pelanggar hukum harus ditindak tegas,” katanya.

Priyo juga mendesak, pihak pemerintah harus menata ulang sistim pencegahan dini yang melibatkan Babinsa dan Bhabinkamtibmas sebagai ujung tombak di lini bawah untuk cencegahan diri.

Sistim pelaporan warga di setiap RT/Desa perlu dihidupkan, termasuk mendeteksi mulai dari pembuatan KTP. Di era kepemimlinan HM. Soeharto dirasakan efektif menanggulangi teroris. Jarum jatuh saja bisa di deteksi.

“Kami dan seluruh rakyat Indonesia tentu berharap Polisi, BIN, BNPT dan dibantu Babinsa dan Bhabinkamtibmas dapat lebih proaktif mengatasi jaringan teroris. Jika melihat amatan jaringan ini bisa saja bermukim di kontrakan, dan bahkan diduga kuat bersembunyi di institusi pemerintahan, ormas maupun partai politik,” tegas Priyo

Partai Berkarya juga mengusulkan menghadapi kondisi bangsa yang lebih terbuka dengan adanya globalisasi, pemerintah bisa melakukan Litsus guna mengidentifikasi bersih atau tidaknya seseorang yang dicurigai masuk jaringan teroris. Sekarang kita tidak bisa memetakan, siapa kawan atau lawan seperti isteri bom bunuh diri di Surabaya ternyata pegawai Depag Jatim.

Sementara itu, Ketua Generasi Muda Berkarya (GMB) Raden Andreas Nandiwardhana mengatakan, pihaknya mengutuk aksi teror yang telah merenggut korban jiwa dan belasan orang luka-luka.

“Kami selaku Ketua Umum GMB sangat mengutuk keras kepada para pelaku teror BOM Surabaya. Kepada  para korban yang meninggal semoga almarhum diterima disisinya, dan untuk para korban yang selamat atau luka-luka semoga lekas diberi kesembuhan, dan untuk para keluarga korban semoga diberi ketabahan,” ujar Andeas menyikapi aksi teror yang terjadi di Surabaya, Jumat, (18/5/2018).

Untuk itu, pihaknya mendesak kepada kepolisian agar segera mengusut tuntas siapa dalang dibalik peristiwa yang dinilai sangat sadis itu.

“Bayangkan saja, anak-anak yang tidak berdosa mengalami luka yang cukup serius akibat ledakan bom itu. Dan tentunya, tidak satupun agama di dunia memperbolehkan kekerasan,” tandas Andreas, yang juga eks wasekjen Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG-Ormas Sayap Partai Golkar).

Dikabarkan, sejumlah ormas yang berada dibawah Partai Golkar berencana akan migrasi ke partai besutan Tommy Soeharto tersebut. (Mhd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here