Pemilu Malaysia, Mahathir Unggul Suara Najib Tersungkur

0
284
Tun Dr Mahathir Muhammad

KUALA LUMPUR (Garudanews.id) – Masyarakat Melayu meluapkan kegembiraannya dan suka citanya atas kemenangan Mahathir Mohamad dalam hasil Pemilihan Umum Malaysia edisi ke-14 yang rampung pada Kamis (10/5).

Mahathir sebelumnya bukan tokoh yang diunggulkan dalam Pemilu di negeri Jiran  itu.  Bahkan sejumlah pengamat politik di negeri Melayu itu masih mengunggulkan incumbrnt,  yakni sosok pemimpin UMNO, Najib Razak.

Dalam Pemilu kemarin,  suara Najib tersungkur, dan harus mengakui keunggulan Mahathir.

Kemenangan tokoh yang disebut Singa Melayu itu seolah membangkitkan lagi semangat masyarakat Malaysia ditengah investasi yang saat ini terus dikuasai kelompok tertentu.

Kemenagan Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri, kemenangan koalisi Pakatan Harapan (PH) juga mengakhiri kejayaan Barisan Nasional (BN) yang sudah berusia enam dekade alias 60 tahun.

Berdasarkan hasil pemilihan umum yang dipublikasikan Komisi Pemilihan Umum Malaysia via laman resminya, koalisi itu mengamankan mayoritas kursi parlemen setelah meraih 113 kursi dari total 222 kursi. Sementara BN memperoleh 79 kursi, The Malaysian Islamic Party (PAS) 18 kursi, Warisan delapan kursi. Kemudian Independents meraih tiga kursi dan satu kursi lainnya didapat Parti Solidariti Tanah Airku (STAR).

Dengan demikian, PH dapat membentuk pemerintahan baru. Sebab, koalisi tersebut plus Warisan telah melampaui batas 112 kursi yang dibutuhkan untuk mayoritas. Berdasarkan hasil pemilihan, oposisi menang di delapan negara bagian, yaitu Johor, Selangor, Kelantan, Terangganu, Penang, Negeri Sembilan, Melaka, dan Kedah.

Ooi Kee Beng, direktur eksekutif Penang Institute, sebuah think thank yang didanai Pemerintah Negara Bagian Penang, menilai kekalahan koalisi BN tak lepas dari sosok pemimpin UMNO, Najib Razak. “Ia merupakan jantung dan jiwa koalisi,” ujar Ooi dalam analisisnya di Channel News Asia, kemarin.

Menurut Ooi, kesalahan Najib sudah tampak jauh sebelum menjadi PM pada 2009. Saat itu, dia diduga mengudeta Abdullah Badawi. Masa jabatan Najib pun terus terganggu oleh sejumlah skandal serius, seperti pembunuhan model Mongolia Altantuya Shaariibuu dan kasus korupsi 1MDB yang diselidiki Amerika Serikat (AS), Swiss, dan Singapura.

Hasil Pemilihan Umum 2013 juga menunjukkan ia gagal memenangkan suara Komunitas Tionghoa Malaysia. Menurut Ooi, setelah itu, Najib pun mengincar elemen yang lebih ekstrem di antara Melayu dan Islamis. “Modus operandi itu tampaknya berhasil dan menyebabkan Pakatan Rakyat kalah. Namun, proses manipulasi politik tanpa akhir itu telah membawa pemain baru tapi lama, yaitu Mahathir,” katanya.

Ooi menuturkan, Mahathir yang kembali dari masa pensiun, kembali dengan ‘peralatan perang lengkap’ disertai tekad kuat menyingkirkan Najib dan membawanya ke pengadilan akibat kasus korupsi. Tekad itu tergambar dalam hasil pemilihan umum yang disampaikan KPU.

“Tidak diragukan lagi, Mahathir adalah striker paling efektif yang pernah ada. Dia tidak pernah bermain untuk kalah,” kata Ooi mengibaratkan Mahathir layaknya Pele dalam perpolitikan Malaysia,  dilansir dari republika.

Dalam peta perpolitikan Malaysia, Muslim Melayu telah lama cenderung mendukung kebijakan afirmatif BN yang menawarkan mereka kontrak pemerintah, perumahan murah, dan jaminan penerimaan universitas. Koalisi PH, yang mengandalkan suara dan dukungan dari minoritas etnis Cina dan masyarakat India, berharap pemimpin Melayu veteran itu dapat menang atas pendukung setia BN.

Strategi itu telah berhasil. “Telah ada perubahan signifikan dalam suara etnis Melayu,” kata Rashaad Ali, analis dari Sekolah Studi Internasional S Rajaratnam di Singapura.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here