DPR Tolak Wacana Kemenristek Dikti Impor Rektor Perguruan Tinggi

317

JAKARTA (Garudanews.id) – Wacana Kemenristekdikti mendatangkan rektor dari luar negeri untuk memimpin Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH) mendapatkan penolakan dari Dewan Perwakilan Rakyat.

Wakil Ketua Komisi X DPR Reni Marlinawati mengatakan ide tersebut semestinya dapat dihindari jika Kementerian Ristek dan Dikti dapat memetakan persoalan dan membuat solusi peningkatan kualitas perguruan tinggi di Indonesia.

“Gagasan lama ini ibarat jalan pintas dan instan untuk meningkatkan kualitas perguruan tinggi di Indonesia. Padahal, kunci ada di pemerintah sebagai pihak regulator,” kata Reni di Jakarta, Selasa (30/7).

Menurut Reni, selain akan bertabrakan dengan berbagai aturan seperti UU 14/2015 tentang Guru dan Dosen dan UU No 12/2012  tentang Perguruan Tinggi, rencana tersebut menunjukkan kurang maksimalnya Kementerian Ristek dan Dikti dalam membentuk sistem pendidikan tinggi yang visioner, ajeg dan adaptif dengan perkembangan jaman.

“Padahal dengan kewenangan yang dimiliki, pemerintah semestinya dapat membentuk sistem yang ajeg, visioner dan adaptif dengan perkembangan jaman. Kita jangan latah dengan menempel salin cara yang diterapkan oleh negara lain dengan impor,” tegas Reni.

Wakil Ketua Umum DPP PPP ini mengingatkan pendidikan merupakan isu yang nenjadi perhatian konstitusi oleh para pendiri bangsa. Salah satu misi utama adanya negara ini, imbuh Reni, tak lain untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Bahkan di konstitusi secara tegas keberpihakan politik anggaran khusus untuk sektor pendidikan. Pesan moralnya, peningkatan  kualitas pendidikan merupakan tanggungjawab negara,” ujarnya.

Reni juga menyebutkan pendidikan tidak sekadar melakukan aktivitas transfer pengetahuan dan tradisi intelektual, namun lebih dari itu pendidikan juga melakukan aktivitas transfer nilai.

“Ada nilai yang ditransfer dalam praktik pendidikan yakni nilai kebangsaan, keagamaan, kebudayaan, dan moral,” terangnya.

Ia juga menyinggung gagasan mengundang rektor asing ini juga bentuk ketidakpercayaan Kementerian Ristek dan Dikti atas SDM yang dimiliki anak bangsa.

Menurut dia, jika spiritnya untuk melakukan transfer pengetahuan dan budaya kerja, hal tersebut dapat dipenuhi oleh putera Indonesia lulusan kampus ternama dari luar negeri.

“Banyak putera Indonesia lulusan kampus ternama di luar negeri dapat menjadi alternatif. Ini soal rasa kebangsaan yang terusik,” imbuhnya. (Red)

Anda mungkin juga berminat