Pemberdayaan Masyarakat Dengan Pisang Cavendish Di Kabupaten Sragen

324

Kabupaten Sragen (Garudanews.id) – Tanah Nusantara dikenal Subur, petani nya juga dikenal ulet. Namun yang menjadi kendala secara umum adalah Kontinuitas, Kwalitas dan Kwantitas dari sebuah komoditas. Hal lain lagi yang menjadi momok petani adalah fluktuasi harga yang tidak menentu, akibat harga yang mengikuti pasar.

Hanya beberapa pengusaha yang mampu memenuhi syarat tersebut. Mendapatkan harga yang bagus dan flat, namun dengan syarat kwalitas, kontinuitas, dan kwantitasnya sesuai kontrak yang di buat antara petani dan pembeli.

Disinipun juga masih muncul masalah di grading. Banyak petani yang mengalami kerugian atau terkurangi keuntunganya akibat grading. Banyak hasil pertanian yang disortir akibat kwalitasnya tidak masuk, akhirnya yang tidak masuk dijual di pasar umum dengan harga sesuai harga pasaran.

Semua perlu kejelian, ketekunan, kepandaian, managemen yang baik dan fokus pada bidang yang di geluti. Agar mendapatkan hasil yang maksimal.

Masalah klasik yang sering dihadapi petani adalah iklim. Sebetulnya iklim di Nusantara atau Indonesia tidak terlalu rumit di bandingkan negara negara non tropis. Kita hanya memiliki 2 iklim , kemarau dan hujan. Sementara di negara non tropis memiliki 4 musim. Kekalahan kita hanya pada teknologi dalam mendukung hasil komoditas yang berkelanjutan.

Ada beberapa komoditas yang tidak terlalu rentan dengan perubahan iklim di Indonesia. Salah satunya adalah pisang. Hasil limbah pisang yang berupa daun dan batangnya, kembali lagi menjadi kompos organik yang sangat baik bagi pertumbuhan inang Pisang.

Hal tersebut menjadi pilihan Kunto, salah satu pegiat pemberdayaan masyarakat di bidang pertanian. Dengan keprihatinannya terkait kwalitas kesuburan tanah di Indonesia yang yang semakin menurun, Kunto mulai menggerakan masyarakat untuk berbudidaya Pisang. Pilihanya adalah Pisang Cavendis.

” Kenapa Pisang Cavendis, karena pisang ini bisa di terima di dunia Internasional. Produk lanjutanyapun juga bermacam – macam. Itu nanti yang akan kita kembangkan” ujar Kunto kepada Kantor Berita Online Garudanews.id, Minggu, 2/08.

Kunto bersama timnya di sebuah Kebun Pisang Binaanya.Foto : Heri

Program ini di sambut baik petanidi Kabupaten Sragen. ” Ada 2 Kecamatan dan kurang lebih 25 Desa yang sudah sepakat untuk budidaya Pisang Cavendis. Nanti kita bimbing dan kita akan membangun infrastruktur penunjang komodity dan pasarnya” tuturnya.

Pasar Internasionalpun sudah di jajaki kunto bersama timnya. ” Jepang salah satu negara yang sudah kita jajaki. Kebutuhan Pisang Cavendis di Jepang sangat besar. Dan itu menjadi salah satu pangsa pasar kami. Karena nanti bukan hanya berupa pisang mentah, namun kami juga akan jadikan Tepung Pisang dan Kripik Pisang yang khas” ungkat Kunto yang juga Kakak kandung Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Terpisah, salah satu staff Kunto di wilayah Kabupaten Sragen, Giyanto mengatakan, progres saat ini sudah mencapai 100 hektar lahan yang siap ditanami Pisang. ” Target kami di Kabupaten Sragen sekitar 2000 Hektar, karena harapan kami, perminggu nanti harus bisa panen 500 hektar. 1 hektar kapasitas pohon sekitar 2500 pohon” papar Giyanto.

” Nanti kita akan dampingi dari teknis pengolahan lahan, penanaman, pemupukan, perawatan tanaman, penanganan buah di pohon, cara panen hingga transportasinya. Hal ini kami lakukan agar kwalitas buah sesuai dengan standar yang kami terapkan” pungkasnya. (Sunyoto)

Anda mungkin juga berminat